Sunday, January 15, 2006

JURNAL EROPA : Colophone (Habis)

Thu Dec 15, 2005 6:53 pm

Dear all,

It was really a dream come true and I still cannot believe it's happening to me. Tomorrow I'm leaving this beautiful city by train, back to Paris before Barcelona, to continue my trip back to Indonesia on Saturday.

Nothing is really perfect in this world... and so is my dream. During my journey here, ''shoot'' happened sometimes and sometimes what I saw was not what I expected or imagined. But we know there's always a cost to a wonderful thing in life. Overall and after all, it's an awesome journey and opportunity... been there, done that, and proved things myself. And my journey won't finish as soon as I arrive in my homeland - but will continue... in another chapter, and another chapter, and another chapter.

I cannot wait to share and put into practice the knowledge and experiences I gained during this journey... especially with those in need and who believe in their dreams. That is the most important essence of my jouney.

If you have a dream - a good dream, go for it and pray. Then you know it will come true... someday, somehow.

December 2005
Amor

"Until you try, you don't know what you can't do"
Anonymous

"Whatever you can do or dream, begin it. Boldness has genius, power and magic in it"
W.H. Murray

JURNAL EROPA : Amsterdam, Kota di Atas Air

Thu Dec 15, 2005 6:24 pm

AMSTERDAM, KOTA DI ATAS AIR

Selasa sore. Rencananya ingin ikut historical walking tour di Amsterdam - tapi setelah lihat-lihat brosur dan ''hanya'' menemukan walking tour malam hari di area Red Light District, akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplor kota ini sendiri dan naik Canal Cruise (boat).

Turun dari kereta api yang membawa kami dari Ijmuiden ke Amsterdam Centraal Station, kami langsung menuju Tourist Information Center terdekat. Bangunan stasiun kereta api Amsterdam sendiri mengingatkan akan stasiun-stasiun kereta api di Indonesia - seperti Stasiun Jatinegara, Purwakarta, Bandung lama, atau Yogyakarta. Hanya sedikit lebih kaya ornamen dan terawat. Namun penampilan luar stasiun sangat Eropa, yang kaya ornamen klasik dan lagi-lagi... berbata merah.

Kota Amsterdam sendiri sudah dihuni sejak tahun 1200 (relatif muda dibanding kota-kota lain di Eropa), di mana penduduk mendiami sisi Sungai Amstel. Awal abad 15, kota ini mulai berkembang dan mencapai puncaknya pada abad 17, ketika Amsterdam menjadi kota terkaya di Eropa berkat perdagangannya di seluruh dunia (termasuk Hindia Belanda). Pada Jaman Keemasan inilah banyak kanal dibangun dan bangunan-bangunan megah di kota ini.

Fakta-fakta menarik tentang Amsterdam : ada 165 kanal dengan panjang 75 km, luas daratan 171 hektar (dengan hanya 750 ribu penduduk) dan 2 juta kubik meter air, dan 1000 jembatan.

Tampaknya kota ini memang tidak dibangun untuk dilalui mobil - tapi untuk sepeda dan pejalan kaki. Buktinya memang lebih banyak sepeda dan orang mondar-mandir di jalan dan trotoar. Selain itu, ada juga trem sebagai alat transportasi publik. Untuk wisata air, tersedia 100 pedal boat, 651 cruise ship, 86 sea cruise ship, 4.809 sea-going vesse. Selain tinggal di ''daratan'', banyak juga warga Amsterdam yang tinggal di houseboat (yang jumlahnya 2.495).

Walau kota ini sangat layak dieksplor sambil berjalan kaki, namun karena waktu yang terbatas, kami naik cruise ship melalui sejumlah obyek-obyek menarik di Amsterdam ini. Karena tanahnya yang lembek, kayu dipergunakan sebagai fondasi bangunan-bangunan di Amsterdam. Bangunan di sini sangat padat - lagi-lagi, rata-rata berbata merah dengan bingkai kayu putih. Seperti rata-rata warga di kota-kota di Eropa, orang tinggal di flat.

Obyek-obyek menarik yang kita lalui di sini termasuk replika kapal VOC yang dulu dipakai melaut ke Indonesia, rumah tinggal Anne Frank (gadis Belanda keturunan Yahudi yang terkenal akan diarinya selama diburu Nazi dulu), beberapa gereja tua bergaya Neo-Gothic, bangunan pabean dan pelabuhan tua dari mana para pelaut Belanda berangkat melaut, dan lain-lain. Oya, di Amsterdam ini ada juga museum Van Gogh dan patung lilin Madame Tussaud (sayangnya nggak sempat masuk).

Walau tergolong negara maju, tidak banyak bangunan tinggi seperti di Jl. Sudirman Jakarta di sini. Kalaupun ada, letaknya di pinggiran kota. Teori saya, Belanda (dan negara-negara lain di Eropa) sudah merasakan Jaman Keemasannya pada abad-abad lampau, yang termanifestasikan dalam bangunan-bangunan tuanya yang megah dan cantik. Sehingga mereka berusaha melestarikannya. Yg terjadi di Asia Tenggara, kita sedang gencar2nya membangun saat ini. Siapa tahu bangunan-bangunan modern di Asia Tenggara saat ini akan menjadi ''heritage'' di abad-abad mendatang. Just a theory.

Dalam segi modernitas, memang metropolitan di Asia Tenggara lebih American oriented. Bahkan di Amsterdam sini tidak ada mal modern dan megah, seperti Plaza Senayan atau Plaza Indonesia. Yang ada bangunan tua multi-lantai yang fungsinya dirubah menjadi department store. Menurut Debby, banyak orang Belanda yang belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia menganggap negara kita tidak se-modern itu. Mereka baru percaya setelah berkunjung di Jakarta atau kota-kota besar lain di Asteng, seperti Singapore atau Kuala Lumpur. Wah, untuk satu hal ini kita boleh berbangga lho.

Setelah puas menyusuri kanal-kanal di Amsterdam dan makan malam (serta mencicipi salah satu pub terkenal di sini), kami pun kembali ke Ijmuiden dengan kereta api. Sepi sekali di sini - tapi itulah yang membuat Eropa berbeda dan akan selalu saya kenang sekembalinya ke tanah air.

Amor

JURNAL EROPA : Velsen-Zuid - Desa Kecil Cagar Budaya

Thu Dec 15, 2005 12:00 am

VELSEN-ZUID - DESA KECIL CAGAR BUDAYA

Kalau Edwin, teman Debby, tidak mengajak saya ke suatu kawasan pemukiman kecil di dekat Ijmuiden, saya tidak akan pernah tahu ada satu desa cagar budaya bernama Velsen-Zuid (Velsen-Selatan).

Velsen-Zuid, sekitar 4 km dari Ijmuiden, dulunya adalah laut. Antara 1865 - 1876 di kawasan ini dibangun kanal (untuk memperluas wilayah daratan di Belanda) dan saat ini yang bisa kita lihat adalah semacam sungai bernama Noordzee-Kanaal, yang membelah Velsen-Zuid dan Velsen-Noord.

Awalnya penduduk di sini bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani. Awal 1900-an dibangun beberapa bangunan, baik sebagai tempat tinggal warga maupun bangunan publik. Untuk ukuran sebuah ''desa'', bangunan di Velsen-Zuid cukup megah. Menurut papan info, ada sekitar 15 bangunan publik asli dari awal tahun 1900-an, termasuk gereja, toko roti, sekolah guru dan pemerintahan, dan kantor pos.

Mulai tahun 1970, pemerintah Belanda mulai meng-konservasi bangunan-bangunan di desa kecil Velsen ini. Walau tidak sekelas World Heritage List, bangunan-bangunan tua di sini bisa menjadi contoh baik bagi usaha konservasi benda cagar budaya skala desa. Terbukti bangunan-bangunan di sini masih dalam keadaan baik, terawat, dan masih berfungsi. Beberapa bahkan masih menjadi kantor dan restoran.

Pemandangan desa ini (walau menurut saya pribadi tidak tampak seperti desa) sangat charming. Sepi, permukaan jalan dari paving block (dari awalnya dulu), rumah-rumah tua berbata merah (beberapa putih) dengan tanaman rambat dan kebun kecil di bagian belakang, serta halaman gereja yang luas dengan pepohonan (berhubung musim masuk musim dingin, daun-daunnya sudah berguguran).

Untuk arsitektur rumah biasanya kotak dan tidak terlalu banyak ornamen pada facade-nya. Walau begitu tampak manis. Rata-rata berbata merah - tanpa plesteran semen, jendela-jendela besar dengan bingkai warna putih, dan pintu kayu berwarna hitam. Untuk beberapa rumah yang berwarna putih, bingkai-bingkai jendelanya berwarna hijau tua. Bahkan ada satu rumah kayu berwarna hijau dengan bingkai-bingkai kayu berwarna putih. Very charming!

Saya pikir rumah-rumah di Belanda sini besar-besar seperti rumah-rumah kolonial Belanda di Menteng, Jakarta atau Dago, Bandung contohnya. Tapi ternyata kebalikannya. Ukurannya kecil-kecil dan atapnya pun rendah. Dan yang khas di Belanda sini, termasuk Velsen, jendela dibiarkan terbuka - tidak ditutup tirai. Jadi saya bisa dengan leluasa melihat ke dalam interiornya. Rata-rata orang Belanda minimalis dalam memajang pajangan di dalam rumah mereka. Di jendela-jendela di bagian dalam biasanya dipajang pot-pot bunga atau tanaman hias dengan beberapa pajangan klasik. Warna tembok di bagian dalam umumnya broken white. Perabotan biasanya natural - dari kayu (dalam warna naturalnya atau dicat putih) dan bahan-bahan kainnya (seperti sofa atau karpet) biasanya berwarna pastel/lembut, atau beige, cream, putih, abu-abu, dan terbuat dari bahan kasar/karung (rugged). Untuk lampu, mereka pantang pakai neon... kebanyakan pakai lampu hias di dinding dengan bohlam. Minimalis tapi charming...

Lumayan betah juga jepret sana sini... apalagi suasana di Velsen ini tentram banget. Setelah puas, kami langsung menuju rumah seorang teman Debby asal Salatiga, yang kini menikah dengan orang Belanda dan kini menetap tidak jauh dari Velsen. Ya, kami diundang makan malam... soto, berikut ayam goreng, tempe, dan kerupuk! Ah senangnya... Ini kedua kalinya nasi yang saya makan selama perjalanan ini (mari kita mencintai nasi dan masakan Indonesia...! :D ).

Jurnal Eropa terakhir, tentang Amsterdam, akan saya post besok, sebelum kembali ke tanah air tercinta Sabtu besok.

Amor

JURNAL EROPA : All About Holland (Hari III)

Mon Dec 12, 2005 6:19 pm

Dames en heeren (Bapak2 dan Ibu2),

Hari III (Minggu)

Sabtu malam kemarin Debby masak (huahaha..!). Gw belum pernah lihat dia masak selama kuliah... Tapi malam itu dia khusus masak ayam goreng dan nasi buat gw (dia tahu udah 3 minggu gw nggak makan nasi... hehe). And habis makan2 gw yg tugas cuci piring (asas mutualisme dan simbiosisme... apa lagi). Thanks ya Deb... you have always been one of the best!).

Minggu ini kita cuma leha2 nonton TV dan DVD. Di luar mendung dan berkabut. Lagipula malam ini kita dapat undangan untuk menghadiri pertemuan Heritage Society warga Indonesia di Belanda dan warga Belanda sendiri di Utrecht.

Malam itu, jam 6, kita sudah stay tune di flat salah satu peserta. Ada 13 orang semuanya - 7 orang Indonesia (termasuk gw dan Debby) dan 6 org Belanda. Ada beberapa nama yg sudah gw dengar sebelumnya. Seperti Hasti Tarekat (jebolan Bandung Heritage - orang Bandung sekarang married dan tinggal di Belanda, salah satu pionir Badan Warisan Sumatera juga), Johannes Widodo (dosen Arsitektur National University of Singapore - jebolan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung yg malam itu jadi salah satu pembicara) plus 2 asistennya org Indo juga, terus org Belandanya sendiri ada Pauline van Roosmalen (arsitek, sering banget pulang pergi Belanda-Indo dan pernah gw lihat di salah satu pertemuan Bdg Heritage di Hotel Panghegar Bandung dulu), terus Jean Paul Courtien (sejarawan) yg namanya pernah gw dengar di mana gitu (lupa). Note: Thanks buat Bpk Suhadi Hadiwinoto, ketua BPPI, yg sudah memperkenalkan saya dengan Mbak Hasti Tarekat. Nanti kita cerita2 deh Pak.

Malam itu, org Indonesia yg hadir cukup beragam. Mbak Hasti asli Sunda, temannya (lupa namanya) org Medan, Pak Johannes dan 2 asistennya peranakan China, Debby keturunan India, dan gw, walau lahir besar di Bdg, ortu dari Jawa. Jadi betul2 Bhineka Tunggal Ika-nya Indonesia banget.

Dalam pertemuan kecil namun hangat itu, ada 2 presentasi. Pertama dari Pak Johannes Widodo dengan materinya berjudul Heritage and Conservation in Asia : Challenges, yang kedua dari orang Belanda yg melakukan riset ttg kota tua di Padang. Lumayan banyak pengetahuan baru yg gw dapat malam itu. Dan mereka (karena gw cuma diam) banyak diskusi dan exchange idea/pemikiran.

Acara diselingi makan malam juga... well, sebetulnya lebih kayak snack. Pertama sup ayam dan wortel hangat. Lalu ada biskuit, aneka keju, ikan herring yg asin dan lembut, aneka pie, aneka sayuran kukus, parutan sayur campur mayonnaise, dan buahnya jeruk dan anggur. Ada juga biskuit2 kecil dan cokelat. Hmmm... gw yg doyan makan (tapi nggak gemuk2) rasanya pengen nyoba semua (tapi sempat jaim juga because yg lain makannya dikit). Minumnya ada wine, juice, termasuk air mineral.

Di akhir pertemuan gw nyempetin ''networking'' dengan bagi2 kartu nama. Siapa tahu bisa bikin peluang dengan org2 ini di kesempatan mendatang, kayak sekolah, kerja, atau kerjasama apapun. Pokoknya selama di Eropa ini gw juga sibuk ber-networking ria. Untuk Bandung Trails juga.

Well, kita kembali ke flat. Rencananya besok, Senin, gw bakal mengeksplor kota tua Amsterdam dan seperti biasa... ambil foto untuk bahan tulisan sekembalinya ke Indo nanti. Pasti bakalan fun abis!

Sampai jurnal selanjutnya!

Amor
www.bandungtrails.com

JURNAL EROPA : All About Holland (hari II)

Mon Dec 12, 2005 6:17 pm

Dames en heeren (Bapak2 dan Ibu2... hehe),

Hari II (Sabtu)

Hari ini gw pengen lihat aktivitas warga kota kecil di Belanda. So Debby ajak gw ke Saantpoort Noort (bener nggak ya nulisnya), kota kecil tetangga Ijmuiden.

Dalam perjalanan menuju SN, kita melewati rumah2 berbata merah milik warga. Kadang-kadang kita melewati hutan-hutan kecil dengan pepohonan yang sudah tidak berdaun lagi, ladang hijau dan datar, serta danau-danau di mana bebek-bebek berkepala hijau (?) dan angsa-angsa putih berenang dengan damainya.

Di SN, menjelang Natal ini, ada semacam bazaar. Macam2 barang dijual di ''kaki lima'', mulai makanan, baju, pernak-pernik sampai peralatan rumah tangga. Tapi gw nggak terlalu suka belanja, yg ada kita hanya nyoba2 makanan dan minuman khas sini. Ada makanan khas winter, yg terdiri dari Rode Kol (kol merah cincang, rasanya manis), Gestoofde Peer (buah pir rebus dikasi wine merah... empuk banget), Ardappel Puree (kentang tumbuk... hmmm yummy!), Haasje (daging sapi muda... mirip semur deh). Untuk minumnya kita nyoba segelas kecil (kecil banget!) Orange Licquour (rasanya kayak obat batuk beraroma jeruk, lumayan buat menghangatkan tenggorokan di siang yg dingin itu (2 derajat)).

Siang itu, walaupun cerah, tetap aja dingin. Gw sampai menggigil terus.

Oya kita juga sempat nonton paduan suara bapak-bapak dan ibu-ibu warga lokal untuk menyambut natal. Ada juga Santa Claus ''jadi2''an mondar-mandir nyapa anak2. Ada juga keledai2 kecil tapi gemuk dan berbulu tebal khusus dipajang untuk menghibur anak2 kecil (dengan pipinya yg merah2 menggemaskan). Debby sempat menyapa dan disapa orang, because dia pernah tinggal di area sini. Setelah gw perhatikan, orang2 Belanda tuh ramah2 dan friendly banget... bahkan dengan orang yg baru ketemu sekalipun. Mereka outgoing... nggak ''menarik diri'' atau dingin. Rata2 bilang ''hi'' atau senyum.

Cewek2 Belanda juga ternyata cute... nggak seperti bayangan gw sebelumnya. Kalo cewek2 Spanyol punya cute-nya sendiri, kalo cewek2 Belanda rambutnya blonde, matanya biru, bulu matanya panjang, hidung kecil mencuat, dan kulit putih bersih (yg gw bayangin kulit mereka penuh sproeten alias bintik2... ternyata mostly nggak tuh).

Setelah lihat2 SN dengan rumah2nya yg charming, kita ke windmill (kincir angin) terdekat. Kincir angin di Belanda sebetulnya dipergunakan untuk menggiling jagung dan pengairan (teknis banget... gw nggak gitu paham, sorry). Tapi yg ini dipakai untuk memproduksi berbagai jenis tepung dan sekaligus punya toko yg menjual selai dan beras (!). Kita sempat naik ke puncak kincir angin ini dan melihat panorama desa sekitar di sela-sela rimbunnya pepohonan yg mulai menguning dan memerah daunnya. Cantik banget!

Yah, nggak banyak yg kita lakukan hari itu karena menjelang jam-jam 3 atau 4 sore kabut mulai turun (dan gelap mulai datang jam 5!). So kita balik ke flat buat nonton TV or DVD or stay tune di depan komputer.

Amor
www.bandungtrails.com

JURNAL EROPA : All About Holland (Hari I)

Mon Dec 12, 2005 6:12 pm

Dames en heeren (Bapak2 dan Ibu2... hehe),

Hari I (Jumat)

Debby nih tinggal di kota kecil, Ijmuiden, sekitar 30 menit naik kereta ke barat Amsterdam - berbatasan dengan laut. Nggak jelas berapa banyak warga Ijmuiden, yang jelas jalan-jalan dan trotoar di sini lengang banget. Rasanya aneh (karena biasa di Jakarta atau Bandung yg crowded) tapi asyik juga... tenang gitu.

Mayoritas warga Ijmuiden tinggal di flat. Sisanya tinggal di rumah unit dengan halaman kecil. Untuk flat, rata-rata punya 3 - 4 lantai. Semua bangunan sama - berdinding bata merah. Menurut Debby, para penyewa/pemilik flat dilarang merubah atau menambah/mengurangi bagian luar bangunannya sebelum ada ijin dari pemerintah maupun tetangga sebelahnya. Makanya bangunan di sini seragam semua. Bagusnya, jadi kelihatan teratur. Kurangnya, menurut gw sih pemandangan jadi sama semua dan sedikit membosankan.

Oya, saat ini musim gugur sudah mulai memasuki masa-masa akhirnya. Suhu udara turun terus di Ijmuiden sini. Menurut TV sih kalau siang sekitar 3-4 derajat. Kalau malam bisa 0 atau bahkan minus... Brrr! Pantas gw menggigil terus. Walau gitu salju belum turun (waktu di Indo gw pengen banget lihat salju... sekarang boro2 deh, lihat es buatan di arena skating Amsterdam aja udah ill-feel).

BTW, di dekat flat Debby nih ada (surprise!)... masjid! Letaknya persis di seberang flatnya. Katanya sih milik imigran asal Timur Tengah di Ijmuiden sini, sekaligus tempat kongkow2 warga Muslim di sini selepas kuliah atau kerja. Nggak jauh juga ada SD (gw paling senang lihat lewat jendela anak2 SD sini main di luar pas istirahat, dengan balutan pakaian musim dingin mereka... cute). Di department store terdekat kita bisa mendapatkan (guess what!)... Indomie, segala bumbu masak Indonesia, bahkan kerupuk dari Indo! Udah gitu harga di sini murah2 lagi (dibanding Paris).

Malamnya kita ke Amsterdam untuk eksplor kehidupan malam di sana. Amsterdam nih, menurut guide book gw, terkenal akan kehidupan malamnya. Ada Red Light District yg terkenal itu (di mana "cewek''2 memajangkan dirinya secara terbuka di dalam kamar beretalase kaca) - pokoknya lengkap deh! Ada ras Caucasia, Asia, mungkin Negroid juga (anyway, nggak lihat yg terakhir ini). Kalau mau ''booking'', tinggal pilih, terus masuk aja... katanya sih bayarannya 50 Euro. Menurut Debby (dan guide book), prostitusi dilegalkan di sini oleh pemerintah Belanda.

Sex shop bejibun di sini..! Yah jual barang2 yg unik2lah, dari VCD sampai alat bantu.
Gw iseng2 aja lihat begitu banyak barang di luar imajinasi gw (lagi nimbang2 mau beli apa yg nggak ada di Indo... haha!). Bahkan kita sempat masuk juga ke Sex Museum (everything about it... kayak all about strawberry di Bandung)... yg ''membeberkan'' secara gamblang sejarah, pernak-pernik, etc. ttg ''dunia biologis'' (kesannya malah jadi lucu, bukan gimana gitu). Turis Jepang paling senang masuk ke sini.

Oya, yg nyeleneh di sini... penggunaan mariyuana dan drug diperbolehkan. Asal nggak di jalan umum aja, tapi di dalam ruangan (bar, pub, hotel, etc). Yg aneh, justeru jual beli drugs nggak boleh (nah lho, terus dari mana dapat barang2 itu?). Ada polisi yg mondar-mandir kayak setrika buat patroli jual beli drugs di jalan2 raya di Amsterdam sini. Kalo ketahuan transaksi di jalanan, ya ketangkep.

Belanda memang terkenal dengan kebebasannya. Orang mau jual diri kek (kayak di Red Light District - bahkan mereka dilindungi karena tetap dianggap kerja), mau pake drugs kek, mau kawin sejenis kek (Belanda yg pertama mengakui perkawinan sejenis), mau hidup bersama kek (cewek cowok)... terserah! Tapi juga pemerintah Belanda melindungi kebebasan beragama warganya, buktinya warga imigran punya tempat beribadahnya sendiri2. Bagus2 lagi dan dijamin untuk mempraktikan agamanya tanpa gangguan/ancaman dari orang lain.

Setelah gw ngobrol2 sama Debby, gw baru ngeh nih. Di sini warga diperlakukan seperti ''orang dewasa'', yg sudah tahu mana yang baik dan mana yg tidak baik buat dirinya sendiri. Pemerintah merasa nggak berhak melarang2. Jadi pemerintah nggak punya hak buat masuk ke ruang pribadi warganya. Cuma ya itu, pemerintah nggak ikut campur akan akibatnya. Maksudnya gini... warga diberi kebebasan untuk melakukan apa yg terbaik buat dirinya tapi konsekuensinya mereka sendiri yg dapat. Asal nggak ganggu orang lain atau ketertiban umum aja. Silakan menilai sendiri.

Walau kesannya pemerintah Belanda nggak ikut campur dengan kehidupan pribadi warganya, tapi fasilitas publik di sini sangat diperhatikan. Gw sempat kagum dengan fasilitas publik, terutama jalan raya, dengan kualitasnya yg prima. Menurut guide book, jaringan jalan raya di Belanda termasuk salah satu yg terbaik di dunia dan hal itu gw buktikan sendiri. Jalan2 tol di sini mulus2... gratis lagi. Debby bilang, jalan raya di sini hasil sumbangan pajak warganya. Di sini jelas ke mana2 aja uang hasil pajak warga dipergunakan.

Wah wah... bikin ngiri aja nih. Ya udah... sampai jurnal hari ke-2 di Belanda.

Amor
www.bandungtrails.com

JURNAL EROPA : On the Way to Holland

Fri Dec 9, 2005 7:23 am

SEPEDA, SEPEDA DAN SEPEDA

Kamis jam 10 pagi saya segera check-out dari hostel menuju stasiun keretaapi Gare de Nord di Paris, khusus untuk keberangkatan kereta-kereta ke arah utara Perancis. Kereta Thalys yang saya tumpangi berangkat pukul 13:55 dan tiba di stasiun Amsterdam Central jam 17:06 (betul2 tepat waktu!). Di Amsterdam, seorang teman kuliah dulu yang sekarang kerja di Belanda, Debby, menyambut dan rencananya saya akan tinggal di tempatnya sampai Kamis minggu depan.

Perjalanan dari Paris ke Amsterdam melewati Belgia. Ada perbedaan antara bangunan dan rumah di Perancis dan Belgia (serta Belanda). Di Belgia dan Belanda, kebanyakan bangunan dan rumah berbata merah. Selain itu, terlihat banyak orang bersepeda di jalanan. Ya, sepeda, sepeda dan sepeda.

Belanda memang salah satu negara paling datar di dunia! Sayang sekali saat ini menjelang musim dingin. Langit kebanyakan mendung dan udara berkabut. Kalau musim panas, kata Debby, bunga-bungan tulip liar bahkan tumbuh di sepanjang rel jalur kereta api.

Debby adalah salah satu anak dari grup kami semasa kuliah dan satu angkatan serta satu jurusan, cewek dan cowok, yang cukup aktif beraktivitas. Terakhir bertemu Februari lalu ketika dia cuti dan pulang ke Indonesia. Aneh rasanya bisa ketemu di sini... Sepintas cukup geli melihat dia ''dibalut'' pakaian tebal ala musim dingin karena selama di Indo belum pernah melihatnya seperti itu.

Anyway, dia tinggal di kota kecil Ijmuiden, setengah jam dengan kereta ke arah barat Amsterdam, dekat dengan pantai. Sepanjang jalan menuju flatnya, rumah-rumah tinggal berbatu bata merah berjejer di sepanjang jalan. Sepi sekali... hanya beberapa mobil dan sepeda lalu lalang di jalan.

Setelah mengantar ke department store terdekat untuk membeli bekal makanan selama satu minggu (ternyata harganya jauh lebih murah dari Paris), kami mulai mengatur rencana. Kebetulan Jumat ini Debby setengah hari kerja, Sabtu, Minggu, dan Senin libur, sehingga bisa mengantar saya melihat2 Amsterdam dan beberapa kota lain. Masuk dalam rencana kami juga melihat kota kecil tua di Belanda, dengan kincir anginnya serta... nonton film King Kong di bioskop! Tapi mungkin saya hanya akan berfokus ke laporan kunjungan ke kota-kota tuanya saja ya..!

Until next time...

JURNAL EROPA : Perancis (Strasbourg)

Fri Dec 9, 2005 7:02 am

STRASBOURG - KOTA PERANCIS BERNUANSA JERMAN

Strasbourg sudah masuk dalam daftar kunjungan ''wajib'' ketika masih di Indonesia. Akhirnya, dengan tekad bulat dan kedinginan, bangunlah saya di Rabu pagi sekitar jam 6 (masih gelap gulita karena ''pagi'' baru dimulai jam 8) dan bergegas ke stasiun kereta Gare de L'Est naik kereta menuju Strasbourg.

Perjalanan selama lebih kurang 4 jam itu akhirnya berakhir sekitar pukul 12.30. Strasbourg, letaknya lebih dekat ke perbatasan Perancis dan Jerman daripada ke kota lain di Perancis. Namanya sendiri berbau Jerman. Konon kota ini, kalau tidak salah, berhasil direbut Perancis sekitar abad-abad 17 atau 18.

Kota ini masuk dalam daftar World Heritage List UNESCO karena merupakan salah satu kota contoh baik peninggalan dari Abad Pertengahan (Medieval Age, abad 11-15 M) di Eropa. Kota tuanya sendiri dibangun di atas pulau kecil yang dikelilingi sungai. Hampir semua bangunan di kota tua merupakan peninggalan dari Abad Pertengahan, yang berciri khas bangunan-bangunan tiga sampai empat lantai berornamen kayu (seperti bangunan gaya Tudor di Inggris). Walau tua, bangunan2 itu masih terawat dan berfungsi, seperti sebagai restoran, toko, dlsb. Hal inilah yang menjadikannya kota wisata.

Ketika berkunjung siang itu, banyak sekali wisatawan, termasuk beberapa rombongan anak sekolah yang tampaknya sedang melakukan ''walking tour'' dengan guru atau guide... entahlah. Keramaian juga terlihat dengan pasar kaget, dengan aneka jajanan khas Strasbourg dan souvenir, serta dekorasi lampu menjelang natal. Rasanya seperti berada di dalam cerita-cerita kuno Hans Christian Andersen. Sungguh, berada di Strasbourg tidak seperti berada di Perancis, tetapi terasa sangat kental nuansa Jerman, atau Swiss, atau Denmark (perasaan saja, karena belum pernah ke sana, baru lihat foto2nya saja).

Setelah jepret sana-sini, sekaligus sebagai bahan tulisan artikel setiba di tanah air nanti, saya bergegas menuju stasiun kereta api mengejar kereta jam 17.23. Angin mulai bertiup dan udara terasa semakin dingin, walau badan ini sudah dibalut kaus dalam, sweater, jaket, dan jaket luar.

Kereta mulai berangkat dalam gelap, kembali ke Paris. Saya harus segera istirahat malam itu, sebelum melanjutkan perjalanan (dengan kereta api juga), meninggalkan Paris menuju Negeri Belanda keesokan harinya.

Au revoir, France...

JURNAL EROPA : Perancis (Paris)

Fri Dec 9, 2005 6:42 am

Adios, Barcelona... Bienvenue, Paris!

BELAH PERANCIS DARI SELATAN KE UTARA
Sabtu pagi jam 8.25, kereta api Talgo meninggalkan Estacio de Francia di Barcelona menuju Gare de Lyon di Paris. Sempat ganti kereta di kota kecil Perpignan, perbatasan Spanyol dan Perancis, jam 12.30 untuk pindah ke kereta TGV yang melesat cepat seperti peluru... membelah area negara Napoleon ini dari selatan ke utara.

Masih di selatan Perancis, pemandangan kota-kota kecil di pantai khas bergaya Mediterania sangat memukau, dengan burung-burung camar bebas beterbangan dan kapal-kapal pesiar dan nelayan berlabuh di dermaga. Lebih ke utara, pemandangan berubah dengan ladang-ladang hijau dan perumahan petani, berlatar belakang gunung bersalju di kejauhan. Lebih ke utara lagi, pemandangan semakin mempesona dengan ladang-ladang hijau diselingi pedesaan dengan rumah-rumah penduduk dan menara gereja, serta jalan-jalan kecil meliuk-liuk dan pepohonan hutan yang mulai meranggas di akhir musim gugur. Jarang sekali terlihat orang di jalan. Hanya beberapa sapi, kuda, dan domba gemuk terlihat di ladang-ladang.

Setengah jalan menuju Paris, salju mulai terlihat menutupi sejumlah ladang. Hampir sepanjang perjalanan langit mendung dan hujan sempat turun di beberapa tempat.

Pukul 17, kereta memasuki stasiun Gare de Lyon di Paris. Hari sudah gelap namun stasiun ini terlihat masih sibuk. Seorang teman baru, Mickael, putera dari seorang staf sekolah internasional Perancis di Jakarta (LIF), yang sedang studi di Paris, menjemput. Setelah mengantar mencari hostel (akhirnya, setelah bolak-balik naik Metro (kereta bawah tanah)), saya mendapat tempat di Blue Planet, dekat dengan Gare de Lyon). Sepintas, tampak puncak menara Eiffel di kejauhan berbalur cahaya (the moment of truth... sekitar jam 19).

PARIS : METROPOLITAN BERNUANSA PUTIH
Hari Minggu, saya dan Mickael mengeksplor kota cahaya ini. Paris sangat metropolitan dan kosmopolitan. Kota ini cukup besar dan sibuk, dan penuh imigran berwajah Afrika dan Oriental (Asia).

Kami berencana menyusuri Sungai Seine dari ujung satu ke ujung lainnya. Sepanjang sungai ini terdapat banyak bangunan bersejarah yang menceritakan perkembangan Kota Paris. Bahkan area ini masuk daftar World Heritage List UNESCO (seperti Borobudur) yang harus dilindungi. Ada menara Eiffel setinggi 300 m, museum seni Musee du Louvre yg beken itu (dengan lukisan Monalisa-nya), Ile de La Cite (pulau di tengah Sungai Seine) dengan Notre Dame yang menjadi latar belakang cerita Si Bongkok dari Notre Dame-nya... yah, hanya menyebut 3 dari sekian banyak bangunan tua, antik dan bersejarah di sini. Sorenya kami juga menyempatkan ke Montmarte, ''kampung'' seni Perancis di atas bukit di utara Paris dengan gereja Sacre Coeur yang juga beken itu.

Esoknya, karena Mickael harus kuliah, saya berjalan sendiri dan menyempatkan ke Arc de Triomph, semacam monumen pahlawan Perancis, dan menyusuri Champs Elysees, semacam tree-lined boulevard. Ah, Paris... romantis dan elegannya dikau di musim gugur, ketika daun-daun menguning dan berguguran.

Dengan pemandangan yang disuguhkan sepanjang Sungai Seine, tingginya biaya hidup di kota ini sempat tidak terasa dan cukup menguras isi dompet. Hari Selasa adalah hari terakhir menyusuri kota ini, sebelum ke Strasbourg esoknya (but that's another story)...

JURNAL EROPA : Francais, je t'aime...

Wed Dec 7, 2005 12:46 am

allo beeters, comment allez vouz?

sabtu pagi meninggalkan barcelona menuju paris dgn kereta api. membelah perancis dari selatan ke utara... pemandangan ok banget, dengan perbukitan diselingi hutan, pertanian, pedesaan, sapi-sapi gemuk, dan pegunungan bersalju di kejauhan.

tiba di paris sore dijemput mickael wibowo, putra ibu marianne wibowo dari sekolah internasional perancis di jakarta yg sedang studi di paris. minggu orientasi paris dengan mickael... merci bu marianne dan mickael. paris romantis dan elegan, apalagi di akhr musim gugur. tidak terlalu kering seperti barcelona dan daun-daun berguguran.

besok ke strassbourg, kota yg masuk world heritage list.

kamis menuju amsterdam sebelum pulang ke indo.

au revoir.

JURNAL EROPA : Bangga Berbatik dan Saat-saat Terakhir di Barcelona (Hari ke-14)

Fri Dec 2, 2005 1:29 am

Hola Beeters,

Wah, nggak kerasa nih sudah masuk hari ke-14..!

Jumat besok adalah hari terakhir studi intensif di Barcelona. Walau begitu, perjalanan saya di Eropa belum berakhir. Sabtu pagi saya berangkat menuju Paris dengan kereta api (Eurail) untuk menikmati Kota Cahaya dan observasi kawasan historis di sana.

Well, nggak banyak yang bakal saya ceritakan dari pekuliahan di kelas (walau banyak ilmu menarik ttg culture dan international cooperation yang didapat). Saya hanya akan sedikit cerita ttg pengalaman presentasi 2 hari yang lalu plus nonton pertunjukan musik klasik kemarin malam).

BANGGA BERBATIK
Setiap peserta studi diberi tugas untuk presentasi ttg aspek budaya di negara masing-masing. Saya baru mempersiapkan 2 hari sebelum berangkat dulu. Anyway, untuk presentasi saya sengaja mengenakan batik dan membawa buku tentang Indonesia untuk diperlihatkan kepada teman-teman dan tutor.
Terus terang itu adalah kali kedua seumur hidup saya mengenakan batik (di Indo boro-boro deh..! Paling pakai T-shirt atau kemeja). Tapi lain rasanya pakai batik di negara lain dan di depan orang-orang mancanegara. Sebelum menjelaskan presentasi melalui PowerPoint, saya sengaja memperkenalkan sedikit tentang batik kepada mereka dan mereka tampak sangat tertarik karena baru melihat tentang batik. Hanya sayalah satu-satunya yang berinisiatif mengenakan pakaian khas negara masing-masing (memang tidak ada kewajiban sih, tapi asyik aja rasanya).
Setelah itu, saya mulai masuk ke sesi prsentasi dan memperkenalkan sebanyak mungkin aspek ttg Indonesia, mulai dari lokasi, keberagaman budaya, sampai aspek legal ttg kebudayaan dan kerjasama di bidang ini (wah, susah juga cari data ttg segala sesuatunya di internet. Memang database kita untuk hampir semua sektor masih kurang...). Anyway, teman-teman mancanegara sangat surprise dengan data-data tentang Indo, seperti 17.000 pulau yang kita miliki, 530 kelompok etnis yang ada di Indonesia, 250 bahasa yang digunakan, dan lain sebagainya. Mereka juga takjub melihat betapa kaya ´warna´ Indonesia yang mereka lihat di buku, seperti pakaian dan rumah adat, flora dan fauna, sampai berbagai panorama alam dari gunung berapi sampai sawah. Bangga dan senang rasanya bisa menunjukkan ini semua kepada mereka.
Umumnya mereka pernah dengar tentang Indonesia, tapi kok pertanyaannya selalu ´´Indonesia tuh di sebelah mananya Kuala Lumpur/Singapore yah?´´ Wah, kok kalah beken sama KL dan S´pore sih. Baru deh saya jelaskan (plus pakai peta segala) ttg lokasi negara kita yg luas itu. Baru deh mereka ngeh... Duh, Indonesia, kasihan deh negaraku... kalah beken sama negara tetangga yg jauh lebih kecil luasnya. Mungkin pemerintah kita terlalu sibuk mengurus seabreg masalah dan urusan di dalam negeri ya, sampai lupa promosi ke luar...
Secara umum, presentasi berjalan lancar dan saya senang bisa ikut ´´ambil peran´´ berbagi info tentang Indonesia walau hanya dengan 12 orang...

NONTON PAGELARAN MUSIK KLASIK
Kamis sore, setelah mengadakan kunjungan ke sebuah lembaga kebudayaan milik pemerintah Catalunya (di Barcelona sini banyak banget institusi kebudayaan), saya dan grup sengaja jalan-jalan sekedar untuk ´´spending time together´´. Oya, ada 2 anggota baru dalam grup, satu dari Perancis dan satu dari Mauritania (Afrika).
Kami mampir di sebuah kafe klasik yang konon beken di Barcelona untuk minum (teh, kopi, cokelat panas). Saya memesan Churros, snack khas Spanyol, semacam gorengan seperti cakwe ditabur gula dan dicelup coklat panas. Rasanya biasa saja... tapi cokelatnya enak banget! Very rich and creamy!
Setelah ngobrol banyak hal (termasuk ngegosipin tutor-tutor kita... weleh2, sama aja kelakuan siswa di mana aja), kita bergegas ke sebuah gedung antik yang ternyata semacam konservatori musik di Barcelona ini dan masuk sebagai World Heritage List. Cuma lihat gedung aja sih plus interiornya, setelah itu kita menuju La Rambla di mana bangunan pusat musik lainnya berdiri (memang Barcelona ini kaya sekali dengan kegiatan seni dan budaya..!).
Di sini rencananya kita bakal menonton pagelaran musik klasik kecil, semacam music chamber-lah. Penasaran, soalnya belum pernah nonton pagelaran semacam ini. Selama ini cuma menikmati dari kaset koleksi di rumah (and my favorite is Vivaldi). Tapi malam itu tidak ada musik Vivaldi, yg ada karya Beethoven, Weber, dan beberapa musikus lain yang saya nggak tahu.
Konser itu sendiri sebetulnya gratis untuk publik dan diselenggarakan oleh badan PBB, UNHCR, sebagai salah satu kegiatan untuk membantu pengungsi (tapi sistemnya gimana, saya nggak terlalu cari tahu). Yg jelas, konser dibuka dengan satu komposisi karya Beethoven dengan masing-masing pemain flute, biola, cello, dan piano. Peaceful banget... adem dengernya. Setelah itu, nah ini baru khas... muncul penyanyi wanita bertubuh sedikit montok dengan gaun hitamnya sambil senyum-senyum (I think she tried to look cute or something)... siap menyanyikan seriosa klasik. Nah, kalo ini saya nggak terlalu suka, maksudnya seriosa. Terlalu berat dan bikin suasana mood gw down. Tapi saya nggak bisa berkutik dan menyelinap keluar karena orang-orang tampaknya serius dan menikmati penampilan sang penyanyi.
So, saya terpaksa harus duduk sekitar satu setengah jam melihat sang lady menyanyi... Kadang-kadang ekspresinya serius, kadang-kadang sendu, kadang-kadang tersenyum genit dan tiba-tiba ´hah!´... dia teriak dengan suara soprannya, menyentak semua penonton. Weleh-weleh... rasanya gw pengen lempar kacang polong ke dalam mulutnya biar tersedak (terinspirasi film2 kartun hehe). No, just kidding! Hitung-hitung buat pengalaman aja nonton pagelaran musik klasik seperti itu...

Malam ini, grup kita rencananya akan makan malam perpisahan di Plaza del Rei. Hmm... saya nggak mau sentimentil tapi rasanya pertemuan selama 2 minggu ini sudah membuat kita serasa sudah lama kenal. Gimana nggak, setiap hari ketemu di kelas, break bareng, makan siang bareng, sampai kadang-kadang jalan bareng. Banyak yang sudah kita share selama ini, dari banyolan sampai yg agak-agak serius. Dan Sabtu kita sudah kembali ke habitat masing2 untuk meneruskan proyek masing-masing untuk program studi ini. Good bye my new friends... good bye Barcelona. Hope we can meet again sometimes.

Tapi di sisi lain saya juga senang karena akan memulai babak baru dalam perjalanan ini... Paris Discovery! Wah, siapa yg belum pernah dengar nama kota ini...? Menara Eiffel, Champs Elysees, Montmartre, Notre Dame... The City of Lights, here I come!

Adios, Barcelona..! Bienvenue, Paris..!

Sampai jurnal berikutnya,
Amor
www.bandungtrails.com

EKSPLOR BARCELONA (II)

Mon Nov 28, 2005 12:43 am

EKSPLOR BARCELONA (II)

Minggu pagi, sekitar pukul 9:45. Saya sudah berada di Tourist Information Center (TIC) yang berlokasi di bawah tanah Plaza Catalunya. Setelah melihat-lihat sebentar dan timbul rasa iri (karena TIC-nya OK banget dan lengkap - tidak seperti di Indonesia... tapi sudahlah, tidak adil rasanya selalu membandingkan apa-apa di sini dengan di Indo :) ), saya langsung antri di depan meja pelayanan informasi. Rencananya pagi ini saya akan ikut walking tour kota tua Barcelona (Gothic Quarter) jam 10. Namun setelah mengutarakan keinginan tersebut kepada petugas pelayanan, saya harus kecewa karena sudah fully-booked. (Tidak ada lagi kesempatan lagi karena ´´weekday´´ saya harus ke kampus dan weekend depan sudah meninggalkan Barcelona menuju Paris).

OK, mungkin ikut walking tour di Paris saja nanti.

Akhirnya saya mengatur strategi agar atraksi-atraksi wisata utama di Barcelona bisa saya kunjungi hari ini sekaligus mengambil foto-foto untuk dokumen pribadi.

GOTHIC QUARTER
Akhirnya, saya memutuskan untuk mengeksplorasi Gothic Quarter sendiri. Lokasinya tidak jauh dari Las Ramblas. Untuk menuju lokasi, saya harus melewati jalan-jalan kecil khas kota tua Eropa, dengan bangunan multi-lantai di kedua sisi dan jalan batu. Barulah saya tiba di depan Katedral Barcelona.
Katedral ini dibangun tahun 1298 semasa Raja Jaume II berkuasa dan khas Gothic, dengan menara-menara runcingnya. Bahan bangunan utama tersusun dari batu, mengingatkan saya akan candi-candi di Jawa Tengah. Bagian mukanya menghadap suatu lapangan di mana banyak warga dan pengunjung lalu lalang (termasuk grup walking tour yang awalnya akan saya ikuti). Sayang sekali bagian muka katedral ini sedang direnovasi, sehingga tampak aslinya tidak terlihat.
Katedral Barcelona adalah satu dari serangkaian monumen yang menjadi bagian asli dari kota tua Barcelona. Seperti kita ketahui, kota-kota tua Eropa biasanya memiliki ciri khas yaitu dibatasi oleh benteng, di mana raja dan warganya dulu tinggal di dalam kawasan benteng (seperti film Troy-nya Brad Pitt bagi yang sudah menonton atau di Jakarta lokasi Museum Bahari sekarang).
Saya sempat mengelilingi peninggalan benteng aslinya, yang tersusun dari batu-batu dan gang-gang kecil. Sempat merinding juga mengingat benteng yang saya sentuh dengan tangan ini sudah berabad-abad umurnya. Di beberapa titik di sekitar katedral, sekumpulan bapak-bapak dan ibu-ibu terlihat sedang berpaduan suara. Entah karena saat itu hari Minggu pagi (ketika orang-orang melakukan kebaktian di gereja. Catatan: mayoritas warga Spanyol beragama Katolik), atau karena menjelang Natal. Para turis pun asyik berkumpul dan menonton kegiatan ini (rasanya pagi itu banyak sekali turis lalu lalang, tidak saja dari Eropa, tapi juga Jepang). Yang kontras, tidak jauh dari paduan suara, terlihat beberapa wanita Gypsie pengemis (Catatan: kaum Gypsie diyakini berasal dari India dan mengembara ke seluruh dunia, terutama Eropa, sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka hidup berpindah-pindah dan tidak memiliki pekerjaan tetap serta tidak berbaur dengan warga lokal).
Selain mengelilingi benteng, saya juga masuk ke dalam bangunan katedral dan menikmati interior yang terkesan gelap namun khidmat. Dengan membayar 4 Euro, saya juga menyempatkan diri masuk ke dalam Museum Arkeologi Barcelona, di mana kita bisa melihat proses perkembangan kota sejak Sebelum Masehi hingga abad pertengahan, ruang bawah tanah di dalam kota tua, serta artifak-artifak penemuan di lokasi itu. Semua yang terdapat di museum disajikan secara modern dan interpretasi yang cukup. Juga terdapat toko suvenir yang menjual beragam cinderamata yang berhubungan dengan tema museum maupun Barcelona secara umum. (Catatan: Barcelona didirikan oleh bangsa Romawi 2000 tahun yang lalu, sedangkan penduduk asli sebelum Romawi datang adalah bangsa Iberia).

Setelah cukup puas dengan Kota Tua Barcelona, saya mendatangi beberapa tempat untuk mengambil foto, seperti Katedral Santa Maria del Mar danumphal Arch (seperti Arch d´Triomphe yang ada di Paris itu, tapi yg ini berwarna merah karena tersusun dari batu bata).

PARC GUELL
Setelah rehat sejenak di kamar hostel, saya buru-buru menuju Metro (stasiun kereta bawah tanah) terdekat untuk menuju Parc Guell. Parc Guell adalah taman di atas bukit di mana kita bisa menikmati beberapa peninggalan arsitek Gaudi dan panorama Barcelona dari atas bukit.
Kondisi taman Parc Guell sendiri mengingatkan saya akan taman di atas bukit Uluwatu di Bali, dengan jalan tanah setapak melingkar-lingkar serta pephonan di sisinya. Di puncak teratas, kita bisa melihat panorama kota Barcelona dan laut - mengingatkan saya ketika berada di puncak teratas Bukit Jimbaran di Bali menghadap teluk. Rasanya tidak terlalu istimewa - tidak seperti yang digembar-gemborkan 2 teman.
Masih di dalam area Park Guell, terdapa beberapa rumah hasil karya arsitek teman-teman Gaudi serta museum Gaudi sendiri.
Parc Guell sendiri sebetulnya merupakan taman proyek milik Eusebio Guell, seorang rekan Gaudi, yang berencana membangun kota berkonsep taman yang sedang trend di tahun-tahun 1910-1920an di Eropa (konsep kota taman jaman Victoria dari Inggris. Di Indonesia, konsep ini diaplikasikan Belanda di kota-kota seperti Menteng, Jakarta; Dago dan Bandung utara; Darmo di Surabaya). Tadinya kawasan ini khusus diperuntukan bagi kalangan elit Barcelona. Karena krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 1930-an (ingat kan, hal ini juga yang membatalkan pemindahan ibukota Nusantara dari Batavia ke Bandung saat itu), proyek ini urung diselesaikan. Namun begitu, Gaudi membeli sebuah vila berwarna teracotta yang saat ini berfungsi sebagai Museum Gaudi (sayang tutup, jadi hanya bisa menikmati dari luar).

Sebelum senja, saya bergegas ke Metro untuk menuju lokasi di satu sisi kota lainnya, Montjuic, di mana terdapat bangunan megah yaitu Museum Nasional Seni Catalonia. Tutup juga, jadi saya hanya bisa memotret sisi depan gedung yang dibangun tahun 1929 itu. Bentuknya mirip Capitol Building-nya negeri Paman Sam, hanya warnanya beda yaitu cokelat.

Karena kaki yang sudah tidak bisa kompromi lagi, akhirnya saya memutuskan kembali ke hostel dan tiba pukul 16:30 (setengah jam lagi matahari terbenam).

Memang tidak semua atraksi wisata yang terdapat di guide book Barcelona bisa dikunjungi, tapi paling tidak beberapa yang utama sudah saya lihat dan kunjungi sendiri dan saya cukup puas dengan hari ini. Siapa tahu esok-esok masih ada waktu untuk berkunjung... Who knows?

Amor
BANDUNG TRAILS
www.bandungtrails.com

EKSPLOR BARCELONA (I)

Sat Nov 26, 2005 11:43 pm

EKSPLOR BARCELONA (I)

Tidak terasa sudah genap 1 minggu saya berada di Kota Barcelona, Spanyol. Dan karena ini adalah akhir pekan terakhir saya berada di kota bekas tuan rumah Olimpiade 1992 lalu tersebut, saya berniat untuk lebih mengenal beberapa dari sekian banyak tempat yang menjadi objek wisata terkenal di kota ini.

Hari Sabtu ini, saya akan ajak teman-teman berkunjung ke Plaza Catalunya, La Rambla, Monumen Columbus, Pelabuhan Barcelona, dan La Sagrada Familia. Namun sebelum berkunjung ke tempat-tempat itu, saya akan mulai dengan latar belakang singkat tentang Barcelona (disarikan dari buku Photographic Guide of Barcelona, Andres Moron, tanpa tahun).

´´Barcelona sudah berusia 2000 tahun. Dibangun oleh bangsa Romawi, kota ini pernah menjadi ibukota Mediterrania (pantai Eropa selatan) selama Abad Pertengahan (abad 11-15). Saat ini Barcelona merupakan contoh utama kota dari masa tersebut serta Modernisme di abad 19 dan 20.

Kota ini mendapatkan prestis melalui 2 pameran internasional besar dari tahun 1888 dan 1929, serta the International Eucharistic Congress tahun 1952; Olimpiade tahun 1992; dan Forum Budaya tahun 2004 lalu (yang menjadikan Barcelona sebagai ibukota budaya di wilayah Mediterania saat ini).

Barcelona merupakan gabungan sejarah dan keindahan, kombinasi gaya peninggalan era Gothic, Baroque, dan Modernism, serta pengaruh brilian dari arsitek Gaudi yang nyentrik itu. Pada intinya, ia adalah kota yang telah menjadi pusat kejayaan di bagian selatan Dunia Lama (Eropa); di mana para pengunjung akan mendapati budaya yang kaya akan sejarah berusia ribuan tahun, seni, dan tidak akan berhenti berkembang di masa depan, yang membentuk warisan terbaik di Eropa.´´

Pagi itu, sekira pukul 10 waktu setempat, matahari cerah namun udara cukup dingin untuk saya yang berasal dari negara tropis (lebih kurang 12 derajat C). Walau begitu, seperti biasa, warga lokal dan pengunjung sudah memenuhi jalan-jalan utama dari tempat saya tinggal menuju objek pertama pagi ini.

PLAZA CATALUNYA
Dibuka tahun 1927 dan dianggap sebagai pusat dari kota Barcelona / Alun-alun. dari titik ini, bercabang beberapa jalan utama seperti Paseo de Gracia, Rambla de Catalunya, La Rambla dan Portal de l´Angel, yang semuanya banyak dikunjungi warga lokal dan pengunjung. Di sepanjang jalan-jalan ini juga banyak dijumpai toko, cafe dan bank, juga berbagai alur dan moda transportasi, seperti bus, taksi, serta stasiun Metro (kereta bawah tanah).
Di pusat Plaza Catalunya ini terdapat 2 air mancur serta serangkaian pahatan indah karya Josep Subirach dan Josep Clara.

LA RAMBLA
Jalan pedestrian sepanjang kurang lebih 1,5 km ini, dengan jalur kendaraan di kedua sisinya, lebih merupakan ´´pasar´´ besar dengan cafe pinggir jalan, penjual berbagai macam barang dari buku hingga burung, pasar tradisional, pusat-pusat kebudayaan serta pertokoan. Bahkan para pantomim dan artis jalanan pun memamerkan keahliannya di sini. Jalan ini berawal dari Plaza Catalunya hingga monumen Christopher Columbus di dekat pantai.

MONUMEN CHRISTOPHER COLUMBUS
Di ujung La Rambla, dekat dengan laut, terdapat Mirador de Colom yang dibangun tahun 1888 untuk mengenang ditemukannya Benua Amerika oleh Columbus.
Dengan material batu, besi, dan perunggu, monumen ini banyak memamekan pahatan orang-orang penting yang berhubungan dengan penemuan benua Amerika. Di puncaknya, terdapat patung Columbus yang sedang menunjuk ke laut. Di dalam monumen setinggi 60 m ini terdapat lift yang dapat mengantar pengunjung ke puncak monumen dan menikmati panorama Barcelona dan sekitarnya (untuk menuju puncak dikenakan tiket sebesar 2.2 Euro).
Kecil sekali tempat yang tersedia di puncak. Namun dari atas ini kita bisa melihat kota Barcelona dari satu ujung ke ujung lainnya, yang dibatasi oleh 2 sungai. Selain itu juga terhampar luas pemandangan laut biru serta perbukitan yang menjadi latar belakang kota. Sedikit banyak, menara ini mengingatkan saya akan menara Masjid Agung di Bandung atau Monas di Jakarta.

PELABUHAN BARCELONA
Dibangun pertama kali tahun 1477, pelabuhan ini telah menjadi salah satu pelabuhan penting di Eropa. Saat ini merupakan pelabuhan terpenting di Meditrania untuk bongkar muat kapal barang serta kapal pesiar juga. Selain itu, bersama-sama Port Vell, Pelabuhan Tua, Pelabuhan Barcelona juga telah dikembangkan sebagai area yang OK sebagai tempat berwisata.
Selain berjalan-jalan, beberapa pengunjung tampak duduk-duduk sambil menikmati hangatnya matahari siang itu. Burung-burung camar serta merpati juga tampak berkumpul dan membaur dengan manusia.
Tidak jauh dari pelabuhan ini, terdapat sebuah mal (yang sama rupa dengan yang kita miliki di Indonesia) serta Museum Sejarah/Arkeologi Bacelona. Sayang sekali pagi itu tutup, sehingga saya tidak dapat masuk ke dalam museum.

Perjalanan saya lanjutkan menuju La Sagrada Familia melewati sejumlah blok dengan bangunan-bangunan manis 4 - 7 lantai bergaya Mediterania dalam balutan warna-warna beige dan pastel.

LA SAGRADA FAMILIA
Di luar area atraksi-atraksi wisata yang saya kunjungi sebelumnya, terdapat gereja bertampang ganjil dan dikenal sebagai karya Gaudi yang paling terkenal serta penanda (landmark) yang paling mewakili kota Barcelona serta gaya Modernisme. Sekilas, bentuk arsitekturnya mengingatkan saya akan gaya Gothic. Menurut saya pribadi, bangunan ini lebih seperti Candi Pambanan dalam skala lebih kecil namun berfungsi sebagai gereja.
Antoni Gaudi (1852-1926) mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pembangunan gereja ini. Pembangunan gereja unik ini dimulai tahun 1882 dan dilakukan selama 40 tahun hingga saat ia meninggal tahun 1926. Karyanya yang banyak menggunakan bentuk geometrik yang mengambil inspirasi dari alam (terutama pohon) itu kini dilanjutkan oleh para arsitek generasi masa kini.
Sejak awalnya, sumber dana pembangunan gereja hanya berasal dari sumbangan pribadi dan amal. Untuk masuk ke dalam area gereja, pengunjung dikenakan biaya 8 Euros yang akan digunakan untuk dana pembangunan. Sekitar 4.000 pengunjung tercatat mengunjungi atraksi wisata ini setiap harinya.

Demikian intisari eksplorasi saya hari ini. Setelah mengambil foto untuk berbagai keperluan setiba di tanah air nanti serta membeli beberapa cinderamata, saya bergegas kembali ke hostel untuk istirahat sejenak. Malam nanti rencananya akan keluar lagi untuk kembali menikmati Barcelona di waktu malam, yang saat ini sudah mulai diberi dekorasi lampu menyambut Natal bulan depan.

Besok, rencananya akan mengikuti walking tour kota tua Barcelona (Gothic Quarter) serta berkunjung ke Parc Guell, sebuah taman yang konon banyak mewarisi aristektur karya Gaudi lainnya.

Sampai besok.

Amor
Koordinator dan Moderator BANDUNG TRAILS
teguhamorpatria@yahoo.com
www.bandungtrails.com

Jalan Tengah untuk Jurnal Eropa

Fri Nov 25, 2005 11:23 pm

Hai Beeters,

Sebetulnya nggak ada yg protes sih dgn Jurnal Eropa yg sy kirim setiap hari. Cuma setelah dipikir2, nggak setiap hari ada berita menarik untuk dibagi. Selain itu, sy memikirkan ´dampak´ terhadap inbox bagi teman2 yg nggak punya kesempatan cek internet setiap hari (pasti sekalinya buka numpuk deh).

So, untuk berikutnya, sy bakal posting pengalaman di Eropa yg sy pikir cukup menarik saja untuk di-share di milis, OK.

Namun begitu, sy tetap mengharapkan peran aktif teman2 Beeters semua untuk posting info2 atau artikel2 yg sesuai dengan tema milis kita, yaitu pusaka dan tourism, di milis ini, OK. Pasti bakal lebih asyik dan menarik...!

Thanks and see you..!

Amor
Koordinator dan Moderator BT

JURNAL EROPA : OK, Gw Tahu Sekarang... (Hari Ke-7)

Fri Nov 25, 2005 2:23 am

Wilujeng enjing, beeters (selamat pagi, beeters = Basa Sunda),

Sekali lagi, gw cuma mau mastiin kalo Jurnal Eropa ini sama sekali nggak ngeganggu kenyamanan teman2 semua. Soalnya, bukan karena gw koordinator dan moderator BT, lalu bisa melakukan apa pun yg sekiranya mengurangi kenyamanan milis ini. So kalau keberatan, jgn sungkan2 bilang gw, OK... It will be fine by me!

Yg jelas jurnal ini nggak punya misi edukatif plus nggak fun2 amat juga... Gw nulis apa yg terjadi hari ini dan apa yg melintas di benak saat di depan komputer... spontan, at least biar teman2 tahu apa yg gw ´temukan´selama perjalanan ini.

OK, sesuai judul, gw baru ngeh beberapa hal ttg Barcelona ini :

1. Lokasi Youth Hostel Gw
Ternyata Diagonal Avenue, lokasi hostel gw, adalah lokasi strategis di pusat kota. Sesuai namanya, jalan ini membelah kota secara diagonal dan salah satu jalan utama di Barcelona. Dari sini ke tempat2 strategis lainnya maupun fasilitas umum dan objek wisata cukup dekat, seperti Passeig de Gracia (jajaran tempat belanja terkenal), Plaça de Catalunya (alun-alunnya Barcelona), Las Ramblas, Kota Tua Barcelona (Gothic Quarter), etc.

2. Tipe Bangunan di Barcelona
Setelah gw perhatikan selama ini, umumnya bangunan di Barcelona berlantai antara 5 - 7. Fungsinya macam2, dari tempat tinggal warga, bangunan publik, sampai kantor, baik pemerintahan maupun swasta. Semacam ruko deh kalo di Indo, cuma di sini setiap bangunan kaya ornamen dan bergaya Mediterania. Biasanya lantai pertama toko, restoran, atau kantor, dan lantai2 berikutnya bisa aja tempat tinggal warga. Oleh karena itu, rumah unit di atas tanah dengan halaman nggak umum di sini.

3. Universitas Barcelona
Universitas ini ternyata usianya sudah 555 tahun..! Bayangkan, bahkan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Spanyol (dan kota2 lain di Eropa) sudah punya universitasnya sendiri. Lokasi aslinya terletak di kota tua atau pusat kota Barcelona. Sedangkan kampus gw yg sekarang lokasinya agak di luar kota... di kaki bukit. Lebih muda dibandingkan bangunan induknya.

4. Geologi Barcelona
Batasannya laut (Selat Mediterania, yg berbatasan langsung dengan Maroko di Afrika utara) dan dibatasi oleh perbukitan di satu sisi lainnya. Katanya, udara dingin yg ada pas musim dingin seperti sekarang datang dari kutub utara. Yah, kayak udara dingin dan kering pas musim kemarau di kita, yg anginnya datang dari selatan (Australia).

5. Terkenal akan...
Barcelona pernah menjadi kota Olimpiade tahun 1992. Di sini, arsitek nyentrik Gaudi banyak meninggalkan karyanya. Konon kota paling modern di Spanyol. Juga terkenal sebagai kota pariwisata dan pusat kebudayaan Eropa (nanti gw klarifikasi lagi ttg yg terakhir ini). Di sini juga banyak imigran dari Afrika utara, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Filipina.

6. Ttg kecupan itu...
Buat yg udah baca jurnal hari ke-6 ttg kecupan pertama gw di Barcelona, kayaknya gw nggak boleh GR deh. Menurut salah satu teman gw, hal itu lumrah di sini. Sebagai ekspresi terima kasih atau senang setelah diberi hadiah, biasanya cewek Spanyol ´sun pipi kiri kanan´´ ke si pemberi hadiah. So, nggak perlu dikonotasikan apa2... Lain tempat, lain budaya, lain interpretasi.

7. Jam buka kantor
Di sini kehidupan mulai jam 9 pagi... baik yg mau sekolah atau kerja. Buat yg sekolah, biasanya selesai jam 3 tau 4 atau 5. Buat yg kerja, istirahat jam 1 atau 2 siang lalu lanjut lagi dari jam 4 atau 5 sampai jam 8 malam. So it´s normal kalau org kerja sampai jam 8 malam di sini. Tapi ya itu, istirahat siangnya lama banget (sudah termasuk siesta atau tidur siang... weleh weleh).

8. Ketinggian Matahari
Berhubung bukan negara tropis kayak Indo, matahari di sini nggak pernah setinggi di negara kita. Jam 12 siang, matahari seperti matahari jam 10an di Indo. Nggak pernah betul2 di atas kepala kita. That´s why matahari terbit jam 8 dan tenggelam jam 5an (musim dingin). Tapi musim panas, matahari bisa tenggelam jam 10 malam. Walau ada sinar matahari, berhubung udara dingin dari kutub, tetap aja menggigil.

Apalagi ya... gw coba ingat2 tapi kayaknya mentok nih.

Well, besok ada program menarik karena kita bakal mengunjungi seminar ttg pariwisata budaya (cultural tourism) dan pamerannya di luar kota. Terus Sabtu, rencananya gw bakal ikut walking tour kota tua Barcelona (Gothic District)... So jgn ke mana2! Gw bakal kembali dgn laporan yg pastinya lebih detail.

Hasta mañana! (sampai besok)
Amor
Koordinator & Moderator BT

JURNAL EROPA : Kecupan Pertama dari Cewek Spanyol (Hari Ke-6)

Thu Nov 24, 2005 3:30 am

Beeters,

Ini adalah hari bersejarah gw selama di Spanyol (hari ke-6) because... gw mendapat kecupan pertama dari seorang cewek Spanyol... haha!

Ceritanya gw mau urus administrasi di kantor AGAUR (kantor agen pemerintah Catalonia yg memberi dana beasiswa ini) dan ketemu langsung sama contact person gw selama ini, Nuria Michelena. Orangnya masih muda sih tapi agak2 ketus... tapi setelah gw kasi souvenir postcard dari Bandung dia kelihatan senang and she gave me a goodbye kiss before I left the room. Hehe... lumayan lah.

Anyway, setelah beberapa hari di Barcelona ini, gw mulai yakin sama beberapa hal yg pernah gw sebutkan di jurnal hari2 sebelumnya :

1. Barcelona betul2 mirip Singapore. Setiap simpang selalu ada lampu merah dan, yg penting, berfungsi. Pejalan kaki juga punya hak di sini, dengan trotoarnya yg luas, bebas PKL, dan ada kalanya mobil harus mengalah kalau ada pejalan kaki menyeberang (tentu saja kalau tanda orang berjalan sedang berwarna hijau). Cuma untuk kereta bawah tanah, di sini agak longgar. Setiap orang kelihatannya boleh ngomong dengan nada keras dan cepat... (cuma makan dan minum aja yg tetap nggak boleh). Di S´pore, org2 pada diem semua.

2. Teman2 gw (semuanya 9 orang) plus tutor gw memang ramah2 and gentle banget. Teman2 gw yg cowok paling senang nawarin gw minum (bukan bir lho... yah coffee atau tea kalau lagi break di kantin kampus), sedang yg cewek paling nanya, gw betah nggak di sini atau gimana kesan2 gw di Barcelona ini. Tampaknya mereka care and berusaha buat bikin gw betah di sini. Karena gw satu2nya yg asal Asia dan nggak bisa ngomong Spanyol di antara mereka, mereka selalu ngomong Inggris kalau ada gw. Gw jadi ngerasa nggak enak, makanya gw nunjukin kalo gw juga lagi usaha belajar bhs Spanyol dengan ngucapin beberapa buah kata atau kalimat yg udah gw tahu. And it´s like magic... Ekspresi muka mereka langsung berubah senang waktu dengar gw mengucapkan kata2 dalam bhs Spanyol (mungkin betul juga nih, kalau pengen lebih cepat diterima di suatu komunitas, akan lebih mudah kalau kita bicara beberapa katah kata dalam bahasa mereka atau lebih baik lagi bicara bahasa mereka).

Oya, kegiatan hari ini kita ikut Konferensi Internasional ttg Budaya di Wilayah Euro-Mediterranean, masih melanjut yg kemarin. Ini hari terakhir, dari pagi jam 10 sampai jam 8 malam. Mereka banyak membahas apa yg selama ini jadi interest gw - bahkan gw sempat merasa, is there any chemistry between what I do in Indonesia and my study here? Bayangkan mereka membahas :
- Pentingnya menjaga dan mempromosikan keberagaman budaya (lihat deh misi BT)
- Kerjasama antar institusi dalam mendukung point di atas
- Pentingnya melibatkan generasi muda dalam proses menjaga dan mempromosikan budaya
- Pentingnya menjaga identitas budaya dari pengaruh globalisasi
- Konservasi pusaka (heritage) dan pengembangannya untuk pariwisata
dllsb. Wah, pokokny klop banget dengan apa yg kita di BT geluti selama ini, sampai gw heran kayaknya memang ada ´´chemistry´´ di antara kita... cie!

Oya, suhu udara terus menurun... hari ini mungkin sekitar 6 / 7 derajat. Gw tanya beberapa orang, ini perasaan gw doang atau memang semakin dingin? Dan mereka semua bilang memang semakin dingin. Nggak salah dong kalau kemarin gw sempat meriang. Kayaknya bodi gw lagi adaptasi kemarin. Sekarang sih dah mendingan. En gw pake syal hari ini... gaya banget ya, padahal di Indo nggak pernah :P. Konon menurut seorang teman, weekend ini suhu udara bakal lebih dingin lagi.

So, untuk mengurangi stres akibat kedinginan, gw selalu berjalan cepat. Lumayan, badan jadi sedikit hangat. That´s why org2 bule terbiasa jalan cepat, soalnya iklim bikin mereka melakukan ini.

Gw lagi di internet room di hostel gw. Masih ada cowok Cuba (kulit hitam) dan cewek Irlandia di sini. Richard, si cowok Cuba, sempat cerita ttg pengalamannya, ttg bagaimana kalau lo betul2 pengen sesuatu, maka kansnya adalah hal itu akan terjadi. (Dalam hati gw pikir nih org kok pikirannnya sama dgn gw... Masih ingat jurnal pertama gw ttg ´´kekuatan mimpi´´? Yg bikin gw bisa sampai di Bacelona ini). Yg lucu juga, banyak tempat2 di Barcelona sini yg rasa2nya pernah gw lihat dalam mimpi gw sebelum di sini. Deja Vu kah? I don´t know... Mungkin cuma kebetulan aja... a nice surprise?

Sampai besok...

Amor
Koordinator & Moderator BT

JURNAL EROPA : Dingin$*#"... Tolong...! (Hari ke-5)

Wed Nov 23, 2005 3:28 am

Brrr... Que tal, Beeters? (Apa kabar, Beeters)

Gw lagi kedinginan. Mungkin gw nggak perlu cerita yg enak-enaknya aja di sini. Harus imbang. Di sini dingin banget... well, at least buat kita yg tinggal di negara tropis.

Gejalanya pada tubuh?
Jari2 gw keriput.
Warna kulit jadi nggak jelas... merah, biru, atau kuning (tergantung tingkat dingin he he)
Kulit gw kering dan bersisik.
Tulang nyeri.
Badan panas.
Perut rasanya kembung.
Kepala kadang pening.

(BTW, sekarang gw paham kenapa orang barat jaman dulu jarang mandi. Selain dingin, kalo terlalu sering mandi badan bisa kering).

Norak? Nggak ah... Gw bangga jadi orang Asia yg terbiasa dgn sinar matahari. Bodi, pigmen, dan kulit kita memang diciptakan untuk iklim tropis. Alam dah ngatur semua.

Cuma sekarang kayaknya tubuh gw lagi berontak... mulai penyesuaian. Tadi malam badan gw sedikit meriang. Untung nggak sakit (kalo sakit wah gawat!). Gw banyakin aja minum susu dan juice buah.

Tadinya gw pikir udara dingin dan kering bakalan enak. Gw sering ngebayangin waktu di Jakarta. Ternyata, nggak enaknya sama aja dengan hawa panas dan lembab kayak di Indo.

Ya ya... Ini belum seberapa. Minggu ketiga rencananya gw bakal ke Paris dan itu letaknya lebih ke utara. Udah gitu masuk Desember lagi. Katanya sih mendekati titik beku (0 derajat). Hmmm...

Hari ini kita dapat materi ttg jenis-jenis kerjasama kebudayaan di Eropa dan gimana kondisi kebudayaan di Mediterania (pantai selatan Eropa kayak Spanyol, Italia, negara-negara Balkan, Turki, Yunani, etc). Sorenya kita ke semacam seminar ttg hal yg sama di salah satu museum seni di Barcelona ini. Cuma gw nggak konsen soalnya body gw rada2 nggak delicious.

Phweeh... akhirnya sampai juga gw di hostel jam 9 malam. Mau istirahat dulu ah... I want my bed badly!

Adios!
Amor

JURNAL EROPA : And the course begins today... (Hari 4)

Tue Nov 22, 2005 1:10 am

Hola, amigos...!

Pada ke mana nih... kok sepi2 aja? Boleh nggak gw kirim jurnal ini via milis tiap hari... biar kita bisa tetap keep in touch.

OK, hari ini secara resmi course gw dimulai. Dari tempat gw tinggal, gw jalan sekitar 2 blok ke stasiun Metro (kereta bawah tanah) terdekat. Dibanding S´pore (sorry, perbandingannya always S´pore karena di kita belum ada kereta bawah tanah) stasiun dan kereta di Barcelona kalah bersih... ada sampah dan banyak grafitti.

Tiba di stasiun tujuan, gw langsung ikut arus anak-anak yg lain naik bus kampus. Bangunan departemen kita terletak paling ujung di pemberhentian terakhir. Kondisi fisik kampus berbukit-bukit dan hijau oleh pepohonan dengan bangunan tersebar, nggak jauh beda dengan kampus-kampus di kita (kayak UI atau ITB, contohnya). Matahari pagi itu cerah, cuma udaranya dingin banget.

Wah, di bus gw mulai bisa ngecengin cewek2 kuliahan Barcelona. Cantik-cantik gila! Udah gitu modis-modis lagi. Semuanya pada pake pakaian musim dingin... ada yg pake syal, jaket panjang, sarung tangan, pokoknya enak dilihat deh. Kayaknya betah deh besok-besok naik bus lagi, udah gitu dempet2an lagi :). Sekedar tambahan, cewek2 Spanyol tuh nggak terlalu bule kayak org2 dari Inggris, Belanda, Jerman... yah you know lah. Kulit mereka putih bersih dan tampang-tampangnya banyak yg agak-agak mirip Arab, India, atau Asia. Pokoknya kayak cewek2 di telenovela deh... atau J-Lo.

Lho, kok jadi ngomongin cewek2 Barcelona nih? OK, intermezzo aja.

OK, kelas dimulai jam 9 dengan perkenalan dari para tutor. Ada 6 orang dalam tim International Cultural Cooperation ini. Direkturnya Dr Lluis Bonet, dan koordinatornya (kontak pertama yg merekomendasikan TOR gw) adalah Dr. Jordi Tresserras.

Peserta course lainnya ada 9 orang. Ada Clara, Enrique, Alfonso, Bartolomeu, dan Nuria dari Spanyol. Patricia dari Perancis. Serena dari Italia. Carla dari Portugal. Serta satu orang lagi, cowok, dari Mexico (lupa namanya soalnya datangnya telat dan perkenalannya buru-buru). Rata-rata mereka ramah, seperti orang Indonesia pada umumnya. Mereka pada umumnya tertarik dgn gw karena satu-satunya peserta dari Asia dan, karena nama gw, mereka pikir gw ada hubungan apa gitu sama Spanyol. Dan (bukan GR nih) mereka terheran2 sama English gw, karena mereka juga nggak fasih2 amat sama English. Gw bilang aja gw udah belajar English sejak kecil dan English is one of my hobbies dan segala sesuatu yg dipelajari dengan fun bisa cepat nangkepnya kecuali kalo kita nganggep itu beban.

Tapi yg gw bikin surprise, mereka tahu ttg Indonesia. Ttg keberagaman budaya dan etnis di kita, banyaknya pulau di Indonesia, Bali, terorisme, sampai tsunami sekalipun... walaupun mereka semua belum pernah ke Indo.

Sang direktur program, merangkap dosen, memberi kuliah dengan santai. Pakai celana jeans, duduk di meja, etc. Tapi soal tanya jawab, gw pikir sama aja antara di sini sama di Indo... Yg aktif ya nanya atau kasi komentar, yg pasif ya diam aja. Tapi kebanyakan sih saling nunggu. Kalo ada satu yg kasi komentar, baru deh yg lain nimbrung. Hehe sama aja ternyata dng kita2 di Indo.

Hari ini perkenalan program apa2 aja yg bakal dilakukan 2 minggu ke depan. Kita juga mulai dapat materi ttg Culture, Cooperation, and Development, juga ttg Cultural Institutions & Interculturality in Barcelona.

Kita juga makan siang bareng (jam 2... khas org Spanyol, makannya always telat) di kantin kampus. Pilihannya banyak banget, dan porsinya gede2. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, sampai hidangan penutup dan minumnya. Harganya ´´relatif´´ murah, 5,8 Euro rata2 (di restoran biasa bisa lebih dari ini).

Jam 5 sore kuliah selesai dan beberapa dari kita pulang bareng. Wah, senang juga punya teman2 baru dari mancanegara...

BTW, apa yg terjadi di kamar gw di hostel... kita kedatangan ´´anggota´´ baru. Satu cewek dari Irlandia dan 3 cowok dari Perancis.

Kesimpulan :
Banyak dari kita menyangka bahwa org2 dari negara atau kebudayaan lain merasa dan berpikir jauh beda dari kita2 di Indo. Yg gw rasakan nggak sama sekali. Mereka hanya beda sedikit dari yg kita duga. Ada yg ramah (rata2 sih ramah), ada yg pemalu dan pendiam... Gw malah merasa mereka sama seperti kita dan beberapa teman baru ini bahkan mengingatkan gw akan beberapa teman2 gw di Indo. Bedanya, secara fisik, mereka bermata cokelat atau biru, berambut pirang... (sebagai contoh). Selebihnya mereka manusia biasa kayak kita2.

JURNAL EROPA : Barcelona Pastel (Hari 3)

Sun Nov 20, 2005 8:37 pm

BARCELONA PASTEL (Hari 3)

Hola todos, buenos dias! Como estas? (Halo semua, selamat pagi! Apa kabar?)

OK, guys... Ini hari ke-3 perjalanan gw di Eropa.

Setelah berangkat dari Bandara Cengkareng hari Jumat sore jam 18:55 dan tiba di Barcelona Sabtu pagi jam 9:20 waktu lokal, plus recovery dari ´´jetlag´´ dan keletihan fisik dan mental akibat duduk selama 20 jam di pesawat (:p), pagi ini, Minggu, gw bangun jam 5 pagi2 buta dengan semangat baru dan kesegaran luar biasa. Siap untuk mengeksplor kota eks tuan rumah olimpiade tahun 1992 lalu ini..!

Susahnya Cari Makan Pagi
Setelah tidur dengan puas, gw terbangun sekitar jam 5 pagi tadi. Beberapa orang yang sama-sama menginap di kamar gw (kami tinggal di youth hostel Sant Jordi Pisos Diagonal, di mana satu kamar terdiri dari 10 tempat tidur... cewek dan cowok!!!) pagi itu check-out. Yang satu, cowok, balik ke Italia, dan yg satu lagi, grup cewek, balik ke kota asal, masih di Spanyol juga.
Setelah mandi dan ngobrol sejenak dengan teman asal Cuba, gw bergegas mandi dan niat cari sarapan. Gila, airnya dingin banget... kayak air kulkas. Untung saja ada air panasnya. Maklum, saat ini di Eropa sedang peralihan dari musim gugur ke musim dingin (walau di Spanyol nggak ada salju pas musim dingin).
Sekitar jam 7:30, matahari baru muncul. Pagi itu mendung dan jalanan masih sepi. Gw bergegas ke McD, sekitar 2 blok dari tempat gw tinggal, tapi masih tutup. Begitu juga rumah-rumah makan lainnya.
Akhirnya setelah berjalan sekitar 1 jam menyusuri Avenue Diagonal dan Passeig de Gracia, gw mampir di Dunkin Donuts dan memesan paket yg terdiri dari 1 donut, 1 roti baguette (sejenis roti Perancis berukuran panjang) berisi sayuran dan tuna, serta Coca Cola dan Kopi. Kenyang banget... bisa double untuk makan siang juga kali.
Konon di Spanyol, orang-orangnya terkenal sebagai pemakan berat dan telat. Makan pagi bisa jam 11-12, makan siang bisa jam 3-4, dan makan malam setelah jam 9 malam..! Udah gitu porsinya besar-besar pula. Apalagi saat itu musim gugur... matahari baru muncul sekitar jam 7:30an, makanya toko2 baru buka setelah jam 8.

Bangunan-bangunan Berwarna Pastel
Kesan pertama gw, Barcelona mirip Singapore.Jalan-jalan utama yg luas dan bebas angkot (no angkot, of course... kecuali bus kota dan taksi, plus kereta bawah tanah), backstreet yg sepi plus bersih, trotoar yg datar, serta bangunan-bangunan ruko berlantai 5 sampai 7. Semuanya bergaya Mediterania yang kaya aksen dan ornamen, mirip dengan ruko-ruko yang menjamur di kota2 besar kita (contohnya di daerah Cibubur). Udah gitu warnanya rata-rata krem dan pastel. Manis banget. Makanya gw kasi julukan Barcelona Pastel.
Yg juga mengingatkan gw akan Simgapore adalah pedestrian yg luas, pohon-pohon di pinggir jalan (mirip Orchard Road), nggak terlalu banyak orang di jalanan, dan bebas polusi... Nggak ada sama sekali yg namanya asap mobil apalagi asap hitam dari bus seperti di kota-kota besar kita. Untuk jalan-jalan, aman deh. Walau begitu, tidak seperti Singapore, di sini langka yang namanya bangunan multilevel yang modern seperti di Jl. Sudirman, Jakarta. Yah, bisa dihitung dengan jari lah.

Las Ramblas yg Tidak Amblas
Barcelona terkenal sebagai kota tujuan wisata di Spanyol. Konon, sang ibukota, Madrid, kalah. Yg bikin beda, kalau Madrid konon lebih kecil dan tradisional, Barcelona lebih modern dan hidup. Salah satunya shopping.
Layaknya tempat-tempat tujuan wisata, seperti Singapore dan Bali, di sini banyak banget resto, pub, butik, dan toko-toko cinderamata. Salah satu tempat terkenal untuk shopping sambil jalan-jalan adalah Las Ramblas.
Jalan sepanjang kurang lebih 2 km ini mengingatkan akan Orchard Road, walau tidak didominasi oleh mal-mal modern. Di sini pejalan kaki menjadi raja. Banyak juga stand majalah plus penjual cinderamata di sini. Ibarat Jl. Legian di Bali, turis mancanegara banyak lalu lalang di sini... to see and to be seen (mungkin Jl. Braga di Bandung dulu kayak gitu ya).
Pokoknya kalau berkunjung ke Spanyol, nggak sah rasanya kalau nggak ke Las Ramblas. Dan dijamin, nggak ada pedestrian yg ámblas´di sini.

´´Walking Tour´´nya Anjing-anjing Barcelona
Salah satu fenomena yg jamak di sini adalah warga Barcelona suka banget jalan-jalan sambil bawa anjing peliharaan mereka. Kebanyakan sih anjing pudel dan spanil, tapi juga nggak jarang yg bawa herder dan buldog. Kelihatannya sih jinak-jinak... gizi dan perawatannya terjamin kali ya :P.
Oya mau nambahin dikit. Di Barcelona sini banyak banget orang lokal yg bertampang Asia (mirip Hispanik seperti di film2 Mexico). Makanya banyak banget yg nganggep gw org lokal juga. Dgn PDnya, mereka jawab atau nyapa pake bahasa spanyol dan gw bilang aja... ¨No hablo Español. Soy de Indonesia. (Gw nggak ngomong Spanyol. Gw dari Indonesia.) Baru deh mereka ngomong Inggris.

Kota Tua Gotik
Setelah berjalan menyusuri ´´Las Ramblas yg tidak amblas´´, gw menuju pantai pelabuhan Barcelona. Tapi jangan salah, kapal2 yg berlabuh di sini bukan kapal barang seperti di Sunda Kelapa atau Tanjung Priok, tapi kapal2 pesiar berukuran sedang. Di sini juga terdapat monumen pengenang ditemukannya benua Amerika oleh Columbus (kalau nggak salah abad 16 lalu).
Tidak jauh dari pelabuhan terdapat ´´kota tua´´ Barcelona, atau yg dikenal sebagai Gothic Quarter. Bangunan-bangunan di sini kaya ornamen,dan berasal dari Abad Pertengahan (XIII - XV). Jalan-jalannya juga sempit-sempit dan tersusun dai batu-batu. Inilah kota asli Barcelona dari awalnya dulu. Walau usianya ratusan tahun, tapi masih tampak terawat dan dimanfaatkan, apakah sebagai hotel, toko, restoran, dlsb. Keren banget..! Di sini banyak banget turis yg lalu lalang... bahkan gw berpapasan dengan grup walking tour (pesertnya banyak banget... 40 orang kali dengan hanya 1 guide).

La Sagrada Familia
Dalam perjalanan kembali ke hostel, gw sengaja mendatangi salah satu landmark kota Barcelona, yaitu gereja La Sagrada Familia (in English: The Sacred Family). Bentuknya unik banget, dengan 2 menara gothic yg kelihatan ganjil. Dibangun oleh arsitek nyentrik terkenal Barelona, Gaudi, gereja ini belum sempat diselesaikan keburu sang maestro meninggal. Gereja ini menjadi simbol budaya Barcelona dan salah satu atraksi wisata terkenal. Konon 40.000an wisatawan datang berkunjung setiap harinya ke sini (menurut brosur pariwisata sini lho). Gila nggak!
Setelah capek walking tour sendiri menyusuri sebagian kota Barcelona Pastel, gw bergegas balik ke hostel dan tiba sekitar jam 13.30. Nggak keringetan sama sekali (maklum suhu udara sekitar 13-17 derajat C). Cuma kaki pegal banget...
Sore ini gw istirahat sebentar dan nyiapin hari pertama besok, ketemu tutor2 gw di kampus dan teman-teman baru. I can´t wait for that coz think it´s gonna be so much fun and interesting!


KESIMPULAN (untuk tourism) :
1. Yg bikin beda antara kota tujuan wisata dan bukan tujuan wisata (mungkin juga negara maju dengan brkembang) adalah kesiapan infrastruktur dan fasilitas penunjang wisata, seperti jalan dan trotoar, papan penunjuk arah, transportasi yg efektif dan efisien, kenyamanan pengunjung, etc. Selain itu juga harus tersedia penunjang lain seperti restoran, toko cindera mata, etc.
2. (untuk heritage conservation) harus ada kesadaran sih dari pemerintah dan warganya. Gw melihat di Barcelona sini pemerintah dan warganya menghargai sejarah, begitu juga para pengunjungnya. Jadi bangunan-bangunan tua di sini tetap OK secara fisik dan berfungsi. Mungkin perumpamaannya seperti sebotol anggur, semakin tua umurnya semakin berharga.

JURNAL EROPA : Campur Aduk..! (Hari 1 & 2)

Sat Nov 19, 2005 8:02 pm

Hola Beeters :

Akhirnya berangkat juga gw ke Spanyol. Jumat jam 18:55, pesawat 747-400 milik KLM mulai take-off dari Cengkareng mengangkut sekitar 400an penumpang ke Amsterdam. Sebelumnya kami transit di Kuala Lumpur (btw, bandara KL yang baru canggih dan bersih banget..!).

Selama 12 jam perjalanan menuju Amsterdam gw nggak bisa tidur! Nggak tahu kenapa... yg jelas ACnya dingin banget (selain itu gw memang cuma bisa tidur di tempat tidur gw sendiri... berabe ya). Walau dikasi makan 3 kali pun tetap nggak mempan.

Jam 4 subuh pesawat tiba di Bandara Schipol, Amsterdam. Gila... dingin banget udaranya! Katanya sih minus 1 derajat (tapi bersyukur gw karena ketakutan gw selama ini tidak terbukti. Yg ada dalam bayangan gw dinginnya bakal kayak di dalam freezer ruangan tempat nyimpen stock bahan makanan di hotel-hotel).

Eropa saat ini memang sedang memasuki musim dingin walau salju belum turun.

Sempat ngobrol dengan 2 org Indo yg sama-sama menggunakan pesawat yg sama dari Jakarta dan transit di Amsterdam. Yg satu mau ngikutin meeting di Paris, yg satu lagi mau kerja di kapal pesiar di Milan.

Jam 7.20 gw ganti pesawat menuju Barcelona. Ternyata pada musim dingin seperti ini matahari di Eropa baru muncul sekitar jam 8-an. Sampai di Barcelona sekitar jam 9.20an.

Konon udara musim dingin di Barcelona tidak sedingin di Amsterdam karena letaknya lebih ke selatan. Kata pilot sih sekitar 14 - 18 derajat. Yah, seperti AC paling dingin di dalam ruangan. Walau matahari muncul dengan normalnya, udaranya tetap aja dingin. Di mana2 org2 sudah pakai sweater dan jaket. Nggak nyombong nih, gw pikir gw masih bisa tahan tanpa jaket (kali kayak Lembang pas malam deh udaranya).

Naik bus menuju pusat kota Barcelona yg terkenal itu (Catalunya Square). Kesan pertama gw ttg Barcelona, nggak terlalu beda kayak Singapore. Jalan-jalan bebas hambatan, tidak ada kemacetan, dan flat2 (org2 di sini tinggal di flat, bukan rumah berhalaman kayak di kita). Kesan gw sih agak membosankan. Nggak banyak warna kayak di Indo (nggak ada PKL, kemacetan, orang lalu lalang di jalan, dll). Gw sedikit ´´serem´´ soalnya terbiasa dengan suasana Indo yg rame dan serba ´´tidak beraturan´´. Jujur, gw udah kangen sama suasana di Indo itu.

Sampai di tempat tinggal gw untuk 2 minggu ke depan, semacam youth hostel (rekomendasi Univ Barcelona). Ada 10 tempat tidur di dalam kamar gw, dan yang bikin surprise ternyata campur cewek cowok. Sebetulnya dengan tidur dalam kamar berkasur 10 dengan orang yang belum gw kenal aja udah bikin gw nggak comfortable. Tapi yah itulah yang paling ekonomis untuk ukuran ´´siswa´´ seperti gw. Hitung2 juga pengalaman deh... :)

Gw tetap nggak bisa tidur siang ini. Makanya nulis e-mail ini. Jet lag kah? Hmmm, maybe. Yg jelas gw masih merasa asing di sini. Apa yg gw lihat pagi ini dalam bus menuju hostel nggak seperti yg ada dalam bayangan gw sebelum pergi. Gw pikir Barcelona itu kota yg banyak bangunan tuanya dan tidak terlalu besar. Ternyata cukup modern dan luas.

Hmmm... gw kok udah kangen lagi ya sama Indo, sama Bandung dan Jakarta... sama keriuhan di jalan2 kita, sama hangat (panasnya) udara kita, sama lo2, sama teman2 dekat gw, sama ´´adik asuh´´ gw, sama ortu gw (tahu nih belakangan gw lagi sayang banget sama ortu dan kakak2 gw). Eh, sori nih jadi sedikit curhat. Tahu, kok perasaan gw jadi campur aduk begini... excited tapi jaga udah kangen lagi sama Indo. Moga2 aja ini karena gw masih kecapean akibat perjalanan panjang.

Maklum, baru pertama bepergian lintas benua dengan suasana berbeda dan sendiri pula..!

Hari ini gw mau tidur dulu... memulihkan jet lag. Mungkin besok pagi sudah bisa mengeksplor kota eks tuan rumah Olimpiade 1992 ini.

Sampai jurnal berikutnya..!

JURNAL EROPA (H-1) : Kekuatan Mimpi

Thu Nov 17, 2005 7:47 pm

KEKUATAN MIMPI

"Kalau kau begitu menginginkan sesuatu, maka alam akan bersatu padu mewujudkan keinginanmu itu"

Saya sempat lupa, di mana kalimat itu pernah saya baca. Yang jelas kalimat itu begitu mempesona, membuatnya terus terngiang-ngiang di benak ini (belakangan seorang teman mengingatkan bahwa kalimat itu ada dalam buku berjudul Sang Alkemi karya penulis asal Brazilia, Paulo Coulho).

Saya memang sering bermimipi untuk bisa melanglang dan melihat belahan dunia lain - bagaimana alam dan iklim di sana serta bagaimana masyarakat setempat hidup sehari-hari. Kadang saya berangan-angan berpetualang seperti "Tintin" atau "Indiana Jones", menjelajahi berbagai tempat eksotis di dunia walau harus menyerempet bahaya sekalipun. But that's what life is... you never know what you're gonna get! (Tapi, BTW, Tintin dan Indiana Jones kan tokoh fiktif. Tentu saja sang pengarang bisa sesuka hati memilih latar belakang dan alur cerita.)

Mimpi itu semakin menggebu-gebu tahun lalu, ketika saya sedang asyik-asiknya menekuni bidang pusaka (heritage). Begitu seringnya membolak-balik dan mempelajari buku-buku berhias gambar-gambar arsitektur tua dan cantik di benua Eropa, membuat saya betul-betul sempat beberapa kali 'mimpi' ada di sana.

Bisa saja saya nekat mewujudkan mimpi itu awal tahun ini. Setelah menghitung-hitung tabungan, memang ada yang bisa dialokasikan untuk bepergian ke sana sekaligus observasi bangunan-bangunan tua di Eropa. Tapi setelah dipikir-pikir, akan jauh lebih baik bila saya bepergian dengan cara yang 'smart', cara yang produktif. Dalam bahasa seorang teman dekat, "Lebih baik lagi kalau ada yang membiayaimu pergi ke sana." Dipikir-pikir betul juga.

Awal tahun itu pula saya menerima infomasi tentang beasiswa penelitian dari Pemerintah Catalonia, Spanyol, untuk melanjutkan kuliah di Universitas Barcelona. Topiknya tidak tanggung-tanggung, "heritage", begitu pas dengan bidang yang sedang saya tekuni saat ini. Oya, informasi itu saya dapat melalui milis Bandung Heritage.

Kirim lamaran dan lupakan. Begitu prinsip saya setelah mengirim TOR (terms of reference) yang menjadi prasyarat. Setelah menunggu beberapa bulan dari tenggat waktu pengiriman TOR, nama saya dan sekitar 6 atau 7 orang Indonesia keluar sebagai nominator. Syukurlah. Paling tidak satu tahap sudah terlalui. Berikutnya, saya harus menunggu beberapa bulan untuk hasil finalnya. Jadi, lupakan lagi.

Bulan Juli akhir, ketika saya sedang berada di Bali untuk mengurus suatu event konferensi internasional, saya dikejutkan dengan e-mail berbahasa Spanyol dari pemerintah Catalonia (yang tidak saya pahami sama sekali) dengan beberapa kata seperti 'acceptio' yang membuat saya curiga. Setelah meminta seorang teman yang pintar bebahasa Spanyol untuk menterjemahkan, akhirnya saya menerima berita yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para nominator dari Indonesia. Hasilnya... aye caramba!@#* Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur, karena dari semua nominator Indonesia, TOR sayalah yang satu-satunya terpilih.

Thanks, God... You have answered my dreams! You really work in a mysterious way.

Saya akui bahwa saya bukanlah orang yang tergolong sangat relijius secara praktik selama ini. Yah, so so-lah (tapi walau begitu saya selalu mengingat Tuhan di mana dan kapan pun lho). Dan setelah 'kejutan' manis datang berturut-turut dalam beberapa tahun terakhir ini, saya merasa sangat 'berhutang' pada Sang Pencipta. Mimpi itu telah benar-benar datang... Bukan saja saya akan berkesempatan melanglang ke bagian dunia yang lain, tapi juga berkesempatan melanjutkan studi - dan segala sesuatunya sudah ditanggung pihak lain.

Tiket pesawat dan kereta api Eurail, dokumen perjalanan, pakaian untuk musim gugur, tugas presentasi pertama... semua sudah terkemas rapi dalam 1 kopor dan 1 tas. Besok, Jumat 18 November jam 9 pagi, saya berangkat meninggalkan Bandung menuju Bandara Soekarno Hatta, sebelum pesawat menuju Barcelona pukul 18.55 (transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam) berangkat mengantarkan saya menuju 'the dream land'.

Moga-moga tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat teman-teman semua. If you really want something and believe that you can reach it someday, get prepared! And don't forget to pray. The chance is it will really come to you someday, somehow. Exactly just like Mr Coulho wrote in his book...

Bandung, 17 November 2005